A.      Pendekatan  Pembelajaran Saintifik
Seperti pendidikan pada umumnya, pendidikan sains mempunyai kedudukan yang sama. Dalam pembentukan kepribadian dan perkembangan intelektual peserta didik pendidikan sains memiliki peranan yang sangat pentimg. Pada pendidikan sains, siswa di dorong untuk melakukan penelusuran masalah, seperti mengamati, menanya, menalar, mencipta, mencoba, mengkomunikasikan.[1]
Sejatinya pendekatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik artinya pembelajaran itu dilakukan secara ilmiah. Oleh karena itu pendekatan ilmiah disebut juga pendekatan saintifik. Proses pembelajaran dapat disamakan  dengan suatu proses ilmiah. Karena itu kurikulum 2013 mengamnatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran.[2]
1.    Konsep Pembelajaran Saintifik
Sebelum melakukan sebuah pembelajaran tentunya seorang pendidik akan memilih pendekatan terlebih dahulu lalu bagaimana konsep yang akan diterapkannya dalam pembelajaran. Berikut konsep atau langkah-langkahnya dalam pembelajaran Saintifik:
a.    Mengamati contohnya peserta didik mampu mengamati besar dengan kecil suatu benda, panjang dengan pendek, jauh dengan dekat. Lebih cocok kelas 1,2, dan 3 SD/MI.
b.    Menanya contohnya peserta didik menanyakan Bagaimana kalau, Bagaimana kalu tidak, Sebenarnya apa yang…
c.    Menalar. Menghubung-hubungkan sesuatu dengan yang lain untuk mengambil kesimpulan. Contoh benda A begini, benda B begini, tetapi benda C kok seperti ini…
d.   Mencipta. Orientasinya untuk membantu terjawbnya pertanyaan yang dikemukakan pada tahap menanya.
e.    Mencoba, siswa melakukan/mempraktekkan
f.     Jejaring / komunikasi.  Mengkomunikasikan ide / temuan / pengalaman kepada orang lain.

Mengamati
Menanya
Menalar
Mencipta
           

Jaringan/ komunikasi
Mencoba
Gambar : Langkah-langkah Ilmiah
Sumber : Musfiqon, Pendekatan Pembelajaran Saintifik


2.    Model Pembelajaran Saintifik
Secara bahasa model yaitu gambaran yang menjelaskan suatu objek, dari konsep suatu pelaksanaan. Sedangkan model pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana konseptual yang berisi strategi, pendekatan metode, teknik serta taktik yang telah disusun oleh tenaga pendidik.
Pada  pendekatan saintifik setidaknya ada tiga model pembelajaran yang dapat di implemantasikan , yaitu: (1) model pembelajaran berbasis proyek, (2) model pembelajaran berbasis masalah, (3) model pembelajaran berbasis inkuiri. Berikut konsep tiga model pembelajaran saintifik:
a.       Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek, adalah proses kegiatan belajar mengajar yang dijadikan sebagai subjek pembelajaran dan pembelajaran yang menggunakan proyek. Siswa di dorong untuk  melakukan eksplorasi, penilaian, interprestasi, sintesis dan mencari informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Untuk lebih jelasnya  berikut langkah-langkah pelaksanaan PBL: (1) Penentuan pertanyaan mendasar yaitu penentuan pertanyaan yang esensial, pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. (2)Mendesain perencanaan guru dan murid berkolaborasi dalam menentukan aktivitas yang nantinya mampu menjawab sebuah pertanyaan. (3)Membuat jadwal, bahwa guru dan murid berkolaborasi dalam menyusun jadwal agar dalam membuat proyek dapat selesai tepat waktunya, selain itu guru juga member pengarahan dalam penyelesaian proyek. (4) Memonitor siswa dan kemajuan proyek. Pengajar harus bertanggung jawab terhadap pesrta didik dalam proses mengerjakan proyek. (5)Menguji hasil pengajar melakukan sebuah penilaian dari hasil proyek di hasilka oleh peserta didik. (6)Mengevaluasi pengalaman disini pendidik dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktifitas dan hasil proyek yang sudah di jalankan.
b.      Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pembelajaran berbasis proyek sekilas sama dengan Pembelajaran berbasis masalah. Namun ada  perbedaan mendasar yang telah menjadi karakteristik sendiri. Problem Based Learning dirancang dengan memunculkan suatu masalah yang nantinya siswa mendapat pengetahuan dari masalah yang telah dimunculkannya tersebut. Selain itu siswa diharapakan dapat memecahkan masalah tersebut dengan sendirinya  dan mempunyai model belajar  sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim untuk menyelesaikan masalah dalam kelompok.
Secara jelas  dipaparkan lima langkah pembelajaran berbasis masalah yang dapat dijadikan acuan tenaga pendidik dalam pembelajaran yaitu,

Gambar : Lima Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah                                                                        Sumber : Musfiqon, Pendekatan Pembelajaran Saintifik

Langkah pertama, pemberian konsep dasar diperlukan untuk peserta didik memperoleh kunci utama dalam pembelajaran sehingga dapat memahami petunjuk secara jelas. Langkah kedua fasilitator menyampikan skenario. Langkah ke tiga setiap siswa  melakukan pencarian sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang di investigasi secara individu. Langkah empat peserta didik berdiskusi dalam pencapainnya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Langkah ke lima penilaian dari pengetahuan, kecakapan, dan sikap. Untuk memberikan gambaran operasionalisasi model pembelajaran berbasis masalah berikut ini dipaparkan contoh penerapannya dalam pembelajarannya sebagaimana dibawah ini:[3]
Gambar : Tahapan Pembelajaran model PBL
Sumber : Musfiqon, Pendekatan Pembelajaran Saintifik

            Menggunakan model  PBL siswa juga berusaha  untuk mengambil tanggung jawab untuk belajar, tidak hanya secara pasif menerima informasi, namun secara aktif mencari informasi yang diperlukan sesuai dengan kemampuan yang ada.[4]
c.       Model Pembelajaran Berbasis Inkuiri.
            Pembelajaran Inkuiri adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Jadi, belajar bukan hanya jurusan intelektual, tetapi semua aspek kehidupan siswa, kognitif, afektif, dan psikomotorik.[5]Pembelajaran inkuiri menekankan pada proses mencari dan menemukan. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inquiri adalah (1) keterlibatan siswa secara maksimal, (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis dalam tujuan pembelajaran, (3) mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri. Berikut tahap pembelajaran inkuiri ada enam langkah:
1)   Langkah pertama, stimulation. Menyuruh siswa membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan di dalamnya.
2)   Langkah kedua problem statement. Tahap ini siswa diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan sebanyak mungkin. Kemudian siswa memilih sebuah permasalahan yang menurutnya menarik, selanjutnya permasalahan dirumuskan dalam pernyataan hipotesis saebagai jawaban sementara.
3)   Langkah ketiga untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, pesrta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan info yang relevan.
4)   Langkah empat semua informasi yang telah di peroleh dari bacaan, wawancara, observasi, diolah secara klarifikasi dengan tingkat kepercayaan.
5)   Langkah kelima di fokuskan pada mengecekkan ulang pada hasil olahan dan tafsiran atau informasi yang ada untuk memastikan apakah hipotesis yang diajukan sudah terjawab atau belum.
6)   Langkah ke enam pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan.[6]
Jadi pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan kegiatan belajar mengajar yang dirancang secara aktif dan efisien dalam belajar agar siswa secara aktif membangun konsep hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik ditujukan  agar dapat membentuk karakter siswa dengan melalui pendekatan pembelajaran yang telah diterapkan pada saintifik, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah pada guru[7].


[1]Bagus Mustakim, Pendidikan Karakter, Membangun Delapan Karakter Emas, Menuju Indonesia Bermartabat, (Yogyakarta : Samudra Biru, 2011), 101.
                [2]Musfiqon dan Nurdiansyah, Pendekatan Pembelajaran Scientific, (Sidoarjo:Nazamia Learning Center, 2015),  53.
             [3]Musfiqon dan Nurdiansyah, Pendekatan Pembelajaran, ... 145.
             [4]International Journal of Education and Research, “Effect of Problem Based Learning (PBL) Models of Critical Thinking Ability Student on The Early Mathematics Abilitiy. Vol. 4 , 2016.

             [5]Faad Maonde dkk, The Discrepancy of Student’s Mathematic Achievement Through Cooperative Learning Model and The Ability in Mastering Language and Science, Vol. 3 No. 1 January 2015, 143.
[6]Musfiqon dan Nurdiansyah, Pendekatan Pembelajaran, ... 148.
[7] Daryanto & Syaiful Karim, Pembelajaran Abad 21, ( Yogyakarta : Gava Media, 2017), 41.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan pembelajaran tematik integratif